Senin, 04 Juli 2016

Jika Sayang Anak Kenapa Engkau Tolak?

3i-Networks SMARTeam -  Begitu banyak peristiwa yang terkadang membuat kening berkerut, dari obrolan yang ringan hingga berat, dari yang hanya bercandaan hingga menyangkut Tuhan.

Dari perkataan yang serius tapi sejurus kemudian berbelok arah penuh alasan.

Pada suatu kesempatan, bersama seorang teman. Kami bertemu disebuah suasana yang santai disebuah kedai kopi langganan. Tak ada rencana untuk janjian mengalir begitu saja.

Sudah hampir 1 tahun lamanya tidak jumpa. Senyum mengembang dan jabat erat yang hangat. Tak ada yang berbeda segalanya nampak sama seperti dulu saat masih dalam satu kantor. Lelaki seumuran dan sedang giat-giatnya membangun impian.

Bertanya kabar dan tentang aktifitas masing-masing. Seperti biasa aku hanya menjadi pendengar yang baik, sambil sesekali menikmati secangkir kopi yang menggoda aroma. 

Dia bertutur panjang lebar termasuk hal-hal yang menyangkut suasana kantor sejak aku memutuskan resign dulu dan bercerita tentang harapan dan masa depan. "Yah.. buat siapa lagi kita kerja keras? Kalau bukan untuk keluarga terutama anak". Katanya. Aku hanya mengangguk tanda setuju.

"Apapun akan aku lakukan, rasa sayang dan cinta mengalahkan segalanya, demi mereka dari pagi hingga malam aku kerja keras". Katanya melanjutkan sorot matanya nampak menerawang menembus sekat awan hitam kehidupan. "Wah, setuju itu". Kataku menimpali. 

"O iya, usia berapa anakmu sekarang ya?, rasanya tidak jauh beda dengan anakku usianya". Tanyaku. "Ehmm... 4 tahunan". Jawabnya.

"Oh.. sama berarti dan masih cukup lama". Kataku mencoba memancing reaksinya. "Maksud kamu?", potongnya penasaran. "Iya masih lama, baik anakku maupun nanti anakmu kejenjang perguruan tinggi, ya kurang lebih 14 - 15 tahun lagi kan?". "Ohh... itu ya masih lama, dipikirnya nanti sajalah kalau itu". "Lho kenapa dipikir nanti, kenapa tidak sekarang juga?", tanyaku. 

"Lha kan masih lama buat apa kita susah-susah mikirin sekarang?" Katanya melanjutkan. "Wah, kalau aku lebih baik aku pikirkan mulai sekarang  dengan mempersiapkan dana pendidikannya agar kelak saatnya tiba kita sudah tidak terlalu berat membiayai keperluannya". "O ya? Bagaimana caranya?". 

Dengan sigap kukeluarkan secarik kertas yang menjadi alat bantuku setiap kali memberi informasi pada setiap orang yang kutemui. Kujelaskan dan kupastikan tiada yang terlewat. 

Sesekali dia hanya ingin terlihat memperhatikan sebab gesturenya begitu menyepelekan. Buatku bukan sebuah persoalan, karena sudah terbiasa dengan sikap bermacam-macam orang,  aku hanya berfikir sederhana saja, pesan harus masuk sebab ini menyangkut masa depan anaknya kelak. 

"Bagaimana?" Kataku setelah selesai memberinya informasi tentang tabungan investasi. "Bagus sih, tapi aku ngga tertarik sama sekali". Katanya dengan nada meninggi sembari menyalakan sebatang rokok. 

"Ngga tertariknya dimananya?" Tanyaku mencoba menggali lebih dalam lagi. Dan .... sejuta alasan pun keluar dari mulutnya. Yang ujung-ujungnya, "Nanti coba aku pikirkan sama istri deh". Namun dengan sikap yang masih terlihat ogah menerima informasi buat anak juga harapan-harapan tentang masa depan yang dia ceritakan diawal obrolan.

"Dan aku pun tersenyum". Bagiku setidaknya sudah memberikan sebuah peta menuju pulau impian. Mau diikuti atau tidak adalah hak masing-masing setiap insan. 

Banyak diantara kita berkata penuh semangat dan emosional apabila menyangkut anak-anaknya, bahwa apa yang dilakukan demi keluarga, demi anak-anak tercinta, sepanjang hari berdoa memohon kemudahan dan jalan yang terang pada Tuhan.

Dan Tuhan memberi jawaban melalui caraNya, sebuah cara yang mungkin datangnya dari teman anda atau seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak engkau kenal, dan tidak engkau sangka-sangka.

Salam
Oleh Leader SMARTeam